Menulis Fiksi Sejarah: Panduan Riset & Imajinasi

albertshairdesign.com >> Narasi Kreatif >> Menulis Fiksi Sejarah: Panduan Riset & Imajinasi
menulis fiksi sejarah

Menulis Fiksi Sejarah (Historical Fiction): Riset dan Imajinasi

albertshairdesign.com – Pernahkah Anda membayangkan berdiri di pelabuhan Sunda Kelapa pada abad ke-16, menghirup aroma cengkeh yang bercampur dengan bau asin laut dan keringat para kuli panggul? Atau mungkin, Anda penasaran bagaimana rasanya menjadi dayang di istana Majapahit saat Sumpah Palapa diucapkan? Keinginan untuk “hidup” di masa lalu inilah yang membuat genre historical fiction begitu memikat. Namun, bagi seorang penulis, genre ini adalah pedang bermata dua.

Di satu sisi, Anda punya kerangka cerita yang sudah tersedia dari buku sejarah. Di sisi lain, Anda dihantui oleh ketakutan akan ketidakakuratan fakta. Imagine you’re sedang asyik menulis adegan perang yang epik, lalu tiba-tiba tersadar: “Tunggu, apakah di tahun segitu senapan jenis ini sudah ditemukan?” Pertanyaan-pertanyaan teknis seperti ini sering kali mematikan aliran kreativitas sebelum naskah selesai.

Menulis fiksi sejarah bukan sekadar memindahkan buku teks sejarah ke dalam format novel. Ini adalah seni menghidupkan kembali tulang-belulang masa lalu dengan daging dan darah imajinasi. Tantangan terbesarnya bukan pada seberapa banyak data yang Anda miliki, melainkan bagaimana Anda menyembunyikan riset yang rumit itu di balik narasi yang mengalir deras. Mari kita bedah bagaimana meramu fakta dan fiksi menjadi sebuah mahakarya.

1. Riset Adalah Gunung Es: Tampilkan Hanya Puncaknya

Kesalahan pemula yang paling fatal saat mulai menulis fiksi sejarah adalah keinginan untuk memamerkan semua hasil riset. Anda mungkin menghabiskan waktu berbulan-bulan membaca tentang sistem irigasi kuno di Jawa. Namun, pembaca Anda tidak membeli novel untuk membaca kuliah pertanian.

Tips: Gunakan teori “Gunung Es”. Lakukan riset sebanyak mungkin (90% bagian bawah gunung es) agar Anda percaya diri dengan dunia yang Anda bangun, tapi hanya tuliskan 10% yang relevan dengan plot (puncak gunung es). Jika karakter Anda sedang dikejar prajurit musuh, dia tidak akan berhenti untuk menjelaskan sejarah tembok benteng yang dia lewati. Dia hanya akan merasakan kasar batunya saat dia memanjat untuk menyelamatkan nyawa.

2. Hindari “Info-Dumping” Melalui Dialog

Sering kali penulis merasa perlu menjelaskan konteks politik zaman itu, lalu memaksakannya lewat percakapan antar tokoh. Hasilnya? Dialog yang kaku dan tidak alami. Contoh: “Wahai Adinda, seperti yang kau tahu, Perang Diponegoro ini sudah berlangsung lima tahun sejak 1825 karena Belanda memasang patok di tanah leluhur Pangeran.”

When you think about it, tidak ada orang yang berbicara seperti itu di kehidupan nyata. Orang-orang di zaman itu menjalani sejarah sebagai “hari ini”, bukan sebagai catatan masa lalu. Biarkan informasi sejarah keluar secara organik melalui konflik dan aksi, bukan lewat “kuliah” terselubung.

3. Detail Sensorik: Bau, Rasa, dan Suara Masa Lalu

Buku sejarah mencatat tanggal dan nama raja, tapi menulis fiksi sejarah menuntut Anda mencatat baunya. Sejarah itu tidak steril. Kota-kota abad pertengahan baunya busuk karena belum ada sistem sanitasi modern. Pasar tradisional di era kolonial penuh dengan teriakan dalam berbagai bahasa—Melayu, Belanda, Jawa, Tionghoa.

Insight: Jangan hanya mendeskripsikan visual. Jelaskan bagaimana rasa nasi jagung di masa paceklik, bagaimana gatalnya memakai kain kasar bagi rakyat jelata, atau bagaimana suara meriam terdengar memekakkan telinga berbeda dengan suara letusan pistol. Detail sensorik inilah yang membuat pembaca merasa “terlempar” ke masa lalu, bukan sekadar menontonnya dari jauh.

4. Jebakan Anakronisme Bahasa dan Perilaku

Salah satu dosa terbesar dalam fiksi sejarah adalah anakronisme—menempatkan sesuatu (benda, kata, atau ide) di waktu yang salah. Yang paling sering terjadi adalah anakronisme bahasa. Menggunakan kata “Oke” dalam dialog prajurit Mataram Kuno tentu akan merusak imajinasi pembaca seketika.

Namun, Anda juga tidak perlu menggunakan bahasa Kawi atau Melayu Kuno yang tidak dimengerti pembaca modern. Kuncinya adalah ilusi. Gunakan bahasa Indonesia baku yang puitis atau diksi yang terasa “lawas” namun tetap komunikatif. Hindari slang modern, tapi tetap pertahankan ritme percakapan yang dinamis.

5. Jangan Memaksakan Pola Pikir Modern

Karakter Anda adalah produk dari zamannya. Imagine you’re menulis tentang seorang perempuan bangsawan di tahun 1800-an. Memotretnya sebagai feminis radikal dengan pemikiran abad ke-21 mungkin terasa “memberdayakan”, tapi sering kali tidak historis.

Tantangannya adalah membuat karakter yang progresif dalam konteks zamannya, tanpa mengkhianati realitas sejarah. Tokoh tersebut mungkin tidak bisa langsung menuntut kesetaraan gender total, tapi dia bisa melawan patriarki dengan cara-cara halus yang cerdas dan relevan dengan budaya saat itu. Ini justru membuat perjuangannya terasa lebih nyata dan mengharukan.

6. “What If”: Celah Sejarah adalah Sahabat Penulis

Sejarah penuh dengan lubang hitam—kejadian yang tidak tercatat, motif yang tidak jelas, atau tokoh yang hilang misterius. Di sinilah tugas Anda sebagai penulis fiksi dimulai. Menulis fiksi sejarah memberikan Anda lisensi untuk mengisi celah-celah tersebut dengan spekulasi kreatif.

Misalnya, sejarah mencatat Gajah Mada menghilang setelah Perang Bubat. Ke mana dia pergi? Apa yang dia rasakan? Tidak ada catatan pasti. Di situlah Anda masuk dengan jawaban “Bagaimana jika…”. Imajinasi Anda bertugas menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh sejarawan. Asalkan masuk akal dan tidak bertentangan dengan fakta utama yang sudah mapan (seperti memalsukan tahun kemerdekaan), Anda bebas berekspresi.

Kesimpulan

Pada akhirnya, menulis fiksi sejarah adalah tentang keseimbangan. Riset yang kuat memberi Anda otoritas, sementara imajinasi memberi Anda nyawa. Jangan biarkan fakta membelenggu cerita Anda hingga kaku, tapi jangan pula biarkan imajinasi liar merusak kredibilitas era yang Anda bangun.

Jadi, periode sejarah mana yang akan Anda hidupkan kembali? Apakah masa kerajaan Hindu-Budha yang mistis, atau masa revolusi fisik yang penuh darah dan air mata? Mulailah riset hari ini, temukan satu fakta kecil yang menarik, dan biarkan imajinasi Anda merajut sisanya. Selamat menulis!

Related Post

Menguasai Seni Storytelling: Teknik Menulis Cerita Memikat

albertshairdesign.com - Dunia ini sebenarnya bukan hanya terdiri dari atom, melainkan juga dari kumpulan narasi.…

Jazz, Blues, & Hollywood: Warisan Budaya Pop

albertshairdesign.com - Bayangkan jalanan malam New Orleans di tahun 1920-an: saksofon bergema dari bar, aroma…