Kearifan Lokal Nusantara: Ritual Tolak Bala di Berbagai Daerah
albertshairdesign.com – Pernahkah Anda merasa seolah-olah semesta sedang berkonspirasi melawan Anda? Ban bocor saat berangkat kerja, kopi tumpah di kemeja putih, hingga proyek besar yang batal mendadak. Di masa modern, kita menyebutnya “hari sial” atau bad day. Namun, bagi nenek moyang kita, rentetan kejadian buruk bukanlah kebetulan semata. Itu adalah tanda ketidakseimbangan kosmos, sebuah sinyal bahwa ada energi negatif yang perlu dinetralkan.
Di sinilah peran ritual tolak bala di berbagai daerah mengambil panggung utama. Jauh sebelum asuransi kesehatan dan sistem keamanan canggih ditemukan, masyarakat Nusantara mengandalkan upacara adat sebagai “polis asuransi” spiritual mereka. Mereka percaya bahwa manusia hidup berdampingan dengan entitas tak kasat mata, dan menjaga harmoni dengan mereka adalah kunci keselamatan.
Imagine you’re seorang petani di abad ke-18. Ketika gagal panen mengancam, Anda tidak berlari ke dinas pertanian, melainkan berkumpul dengan tetua adat, menyalakan kemenyan, dan melarung sesaji ke laut. Apakah ini takhayul belaka? Atau ada lapisan kearifan sosial dan psikologis yang tersembunyi di baliknya? Mari kita singkap tirai mistis ini dan melihat bagaimana berbagai suku di Indonesia “bernegosiasi” dengan nasib buruk.
1. Rebo Wekasan: Menangkal Ribuan Bencana di Tanah Jawa
Di Pulau Jawa, khususnya di kalangan masyarakat tradisional dan sebagian pesantren, hari Rabu terakhir di bulan Safar (kalender Hijriah) dianggap sebagai hari yang “berat”. Tradisi ini dikenal dengan nama Rebo Wekasan.
Konon, pada hari tersebut, ribuan jenis penyakit dan marabahaya diturunkan ke bumi. Untuk menangkalnya, masyarakat menggelar selamatan, berdoa bersama, dan membagikan ketupat atau bubur merah putih. Fakta Unik: Di beberapa daerah seperti Kudus atau Gresik, ada tradisi meminum air “Salamun”, yaitu air yang telah didoakan dan sering kali dicelupkan kertas bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Insight: When you think about it, Rebo Wekasan sebenarnya adalah bentuk communal healing. Rasa cemas akan masa depan diredam melalui doa bersama. Efek plasebo dari meminum air suci dan keyakinan kolektif memberikan ketenangan psikologis yang nyata bagi masyarakat.
2. Tabuik: Pesta Laut Pariaman yang Kolosal
Bergeser ke Sumatera Barat, tepatnya di Pariaman, ada sebuah perhelatan akbar bernama Tabuik. Meskipun secara historis ritual ini berakar dari peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW (Hasan dan Husein), dalam konteks lokal, Tabuik telah bertransformasi menjadi ritual tolak bala dan pesta rakyat.
Puncaknya adalah ketika “Tabuik” (keranda hias setinggi belasan meter yang menyerupai Buraq) diarak menuju pantai dan dilarung ke laut. Analisis: Pembuangan Tabuik ke laut disimbolkan sebagai pembuangan segala sial dan bencana yang ada di masyarakat. Tips Wisata: Jika Anda ingin menyaksikan ritual tolak bala di berbagai daerah yang paling meriah dan fotogenik, datanglah ke Pariaman saat Muharram. Ingat, siapkan kamera karena momen “Tabuik dibuang ke laut” sangat epik dan emosional.
3. Mecaru: Memberi Makan “Si Jahat” di Bali
Bali dikenal dengan konsep Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), salah satunya adalah hubungan harmonis dengan alam dan roh. Ritual Mecaru adalah manifestasi dari konsep ini. Uniknya, dalam Mecaru, masyarakat Bali tidak “mengusir” roh jahat (Bhuta Kala) dengan kekerasan, melainkan menyuap mereka dengan makanan.
Masyarakat Bali percaya bahwa energi negatif (Bhuta Kala) tidak bisa dimusnahkan, hanya bisa dinetralkan agar tidak mengganggu. Fakta: Sesajen yang diletakkan di tanah (bawah) diperuntukkan bagi Bhuta Kala, sementara yang di pelinggih (atas) untuk Dewa. Insight: Ini mengajarkan filosofi keseimbangan yang luar biasa. Kita tidak harus memusuhi hal-hal buruk dalam hidup, tapi cukup “memberi mereka tempat” dan berdamai dengannya agar hidup kita tetap seimbang (somia).
4. Buang Jong: Melarung Sial Suku Sawang
Bagi Suku Sawang di Kepulauan Bangka Belitung, laut adalah rumah sekaligus sumber kehidupan. Maka, tak heran jika ritual tolak bala mereka, Buang Jong, dilakukan di laut. Ritual ini melibatkan pembuatan perahu kecil (jong) yang diisi dengan sesaji dan ancak (replika rumah-rumahan).
Selama ritual berlangsung, semua orang dilarang melaut. Imagine you’re berdiri di pinggir pantai, melihat perahu kecil itu hanyut membawa harapan seluruh desa agar badai laut dan penyakit menjauh dari mereka. Data: Ritual ini biasanya dilakukan saat musim angin kencang, sebuah waktu yang secara logis memang berbahaya bagi nelayan. Jadi, larangan melaut selama ritual sebenarnya adalah protokol keselamatan kuno yang dibungkus mitos.
5. Hudoq: Topeng Seram Penjaga Padi Dayak
Di pedalaman Kalimantan, Suku Dayak Bahau dan Modang memiliki cara unik untuk menolak bala pertanian (hama dan gagal panen). Mereka menggelar tarian Hudoq.
Para penari mengenakan topeng kayu yang menyeramkan dan kostum dari daun pisang kering, merepresentasikan roh pelindung tanaman. Hudoq dipercaya turun ke bumi untuk memberkati padi dan mengusir roh jahat serta hama pengganggu. Insight: When you think about it, penggunaan kostum daun pisang dan topeng seram mungkin secara teknis memang bisa menakuti hewan liar atau hama kasat mata di ladang. Namun lebih dari itu, Hudoq adalah doa visual—sebuah pertunjukan teaterikal agar alam berpihak pada manusia.
6. Tepuk Tepung Tawar: Restu Keselamatan Melayu
Di tanah Melayu (Riau, Kepulauan Riau, hingga Kalimantan Barat), ritual Tepuk Tepung Tawar adalah menu wajib dalam acara pernikahan, sunatan, atau syukuran. Meski terlihat seremonial, intinya adalah tolak bala: memohon keselamatan dan menjauhkan “ain” (pandangan jahat) atau kesialan dari si punya hajat.
Ritual ini menggunakan bahan-bahan simbolis seperti beras kunyit, daun perenjis, dan bedak sejuk yang ditepukkan ke telapak tangan dan dipercikkan ke udara. Filosofi: Kuning melambangkan kemuliaan, beras melambangkan kesuburan. Tepuk Tepung Tawar adalah cara orang Melayu berkata, “Semoga hidupmu sejuk, damai, dan jauh dari panasnya masalah duniawi.”
Kesimpulan
Melihat ragam ritual tolak bala di berbagai daerah, kita sadar bahwa leluhur kita bukanlah orang-orang yang pesimis atau penakut. Justru, mereka adalah optimis sejati. Mereka menghadapi ketidakpastian alam—badai, wabah, gagal panen—bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan aksi kolektif berupa ritual.
Hari ini, mungkin kita sudah mengganti sesajen dengan polis asuransi dan ramalan cuaca digital. Namun, semangat di balik ritual tersebut tetap relevan: keinginan manusia untuk hidup damai, terhindar dari marabahaya, dan selaras dengan alam semesta. Jadi, jika suatu saat Anda melihat arak-arakan tumpeng atau pelarungan sesaji, jangan buru-buru mencibirnya sebagai hal kuno. Lihatlah itu sebagai cara nusantara merawat harapan.