albertshairdesign.com – Pernahkah Anda membaca sebuah cerita pendek (cerpen) dan merasa bosan setengah mati di paragraf pertama, padahal plotnya sebenarnya menarik? Atau sebaliknya, pernahkah Anda membaca adegan sederhana—hanya seseorang yang sedang minum kopi—tapi rasanya begitu nyes di hati, seolah Anda sendiri yang sedang memegang cangkir panas itu? Perbedaan mendasar dari kedua pengalaman tersebut sering kali bermuara pada satu aturan emas penulisan: Show, Don’t Tell.
Bayangkan Anda sedang menonton film. Apakah sutradara akan menyuruh aktornya berdiri di depan kamera dan berteriak, “Saya sedang sedih sekali!”? Tentu tidak. Sutradara akan memperlihatkan aktor tersebut duduk termenung di sudut kamar yang gelap, dengan mata sembap dan tisu berserakan di lantai. Penonton menyimpulkan sendiri bahwa dia sedih tanpa perlu diberi tahu.
Nah, tantangan terbesar bagi penulis pemula adalah memindahkan visualisasi sinematik itu ke dalam teks. Penerapan Teknik “Show, Don’t Tell” dalam Cerpen bukan sekadar jargon kelas sastra, melainkan kunci utama untuk mengubah pembaca dari “pengamat pasif” menjadi “partisipan aktif” yang ikut merasakan denyut nadi cerita Anda.
Apa Itu “Show, Don’t Tell”? (Bukan Sekadar Teori)
Secara sederhana, telling (memberi tahu) adalah penyampaian informasi secara instan dan ringkas. Contoh: “Budi sangat marah.” Sedangkan showing (menunjukkan) adalah memberikan bukti nyata melalui tindakan, indra, dan perasaan sehingga pembaca bisa menyimpulkan sendiri emosi tersebut. Contoh: “Wajah Budi memerah, tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih, dan ia membanting pintu sekeras mungkin.”
Fakta Sastra: Dramawan legendaris Anton Chekhov pernah berkata, “Jangan beri tahu saya bulan sedang bersinar; tunjukkan pantulan cahayanya pada pecahan kaca.”
Insight: Teknik ini memaksa penulis untuk tidak malas. Telling itu mudah dan cepat, tapi sering kali membunuh imajinasi. Showing membutuhkan usaha lebih, tapi hasilnya adalah keterlibatan emosional yang mendalam.
Mengapa Otak Kita Lebih Suka “Melihat”?
Sebenarnya, ada alasan ilmiah mengapa teknik ini sangat ampuh. Otak manusia dirancang untuk memproses pengalaman sensorik lebih kuat daripada data abstrak.
Ketika Anda menulis “Dia berlari kencang”, bagian otak yang memproses bahasa (Broca’s area) aktif. Namun, ketika Anda menulis “Jantungnya berdegup kencang saat kakinya menghentak aspal basah, memburu waktu,” korteks motorik dan sensorik di otak pembaca ikut menyala.
Tips: Anggap diri Anda bukan sebagai penulis, melainkan sebagai kameramen. Fokuskan lensa Anda pada detail fisik yang merepresentasikan emosi atau suasana, bukan pada label emosinya.
Hapus Kata Sifat, Ganti dengan Kata Kerja Aktif
Salah satu musuh terbesar dalam Penerapan Teknik “Show, Don’t Tell” dalam Cerpen adalah ketergantungan berlebihan pada kata sifat (adjektiva) dan kata keterangan (adverbia).
Alih-alih menulis: “Rina berjalan dengan lelah dan lesu,” cobalah ganti dengan tindakan spesifik: “Rina menyeret langkahnya menaiki tangga, bahunya merosot seolah menanggung beban dunia.”
Kata “lelah” dan “lesu” adalah kesimpulan. Jangan berikan kesimpulan itu kepada pembaca. Berikan datanya (menyeret langkah, bahu merosot), dan biarkan pembaca menyimpulkan sendiri bahwa Rina sedang kelelahan. Ini membuat pembaca merasa pintar dan terlibat.
Dialog: Biarkan Subteks yang Bicara
Dialog adalah ladang ranjau bagi penulis pemula yang suka telling. Sering kali kita menemui dialog seperti: “Aku sangat membencimu karena kamu selingkuh!” Ini terasa kaku dan tidak natural. Di dunia nyata, orang jarang bicara se-eksplisit itu tentang perasaan mereka.
Cobalah gunakan subteks dan aksi. “Kau pulang malam lagi?” tanya Siti tanpa menoleh dari layar ponselnya. “Lembur,” jawab Budi singkat, langsung menuju kamar mandi, menghindari tatapan istrinya.
Dalam contoh kedua, tidak ada kata “curiga”, “bohong”, atau “marah”, tapi pembaca bisa merasakan ketegangan dan keretakan hubungan mereka. Inilah esensi showing lewat interaksi.
Detail Sensorik: Libatkan Lima Indra
Sering kali penulis hanya terpaku pada indra penglihatan. Padahal, immersion atau keterbenaman pembaca akan maksimal jika Anda melibatkan indra lain: penciuman, peraba, pendengaran, dan pengecap.
Imagine you’re menulis adegan di rumah sakit. Jangan hanya deskripsikan dinding putih dan perawat berbaju seragam. Deskripsikan bau antiseptik yang menyengat hidung, bunyi bip monitor jantung yang monoton, atau rasa dingin dari kursi tunggu berbahan logam. Detail-detail kecil inilah yang membuat cerpen terasa hidup dan tiga dimensi.
Kapan Harus “Tell”? (Jangan Anti-Tell!)
Nah, ini jebakannya. Saking semangatnya menerapkan showing, penulis pemula sering terjebak mendeskripsikan segalanya secara berlebihan (purple prose).
“Dia memutar gagang pintu, mendorong kayu jati itu, melangkahkan kaki kanannya, lalu kaki kirinya…” — Ini membosankan!
Insight: Anda perlu keseimbangan. Gunakan Showing untuk adegan penting, momen emosional, dan klimaks. Gunakan Telling untuk transisi waktu, pergerakan tempat yang tidak penting, atau meringkas latar belakang. Jika karakternya hanya perlu pergi dari rumah ke sekolah tanpa ada kejadian penting, cukup tulis “Dia pergi ke sekolah.” Tidak perlu mendeskripsikan setiap putaran roda motornya.
Latihan: Bedah dan Tulis Ulang
Cara terbaik mengasah kemampuan ini adalah dengan menjadi editor yang kejam bagi tulisan sendiri. Ambil cerpen lama Anda, cari kalimat yang mengandung kata sifat emosi (sedih, senang, takut, marah), lalu tantang diri Anda untuk menulis ulang kalimat tersebut tanpa menggunakan kata sifat itu sama sekali.
When you think about it, menulis adalah proses memindahkan film di kepala Anda ke kepala orang lain. Jika sinyalnya hanya berupa teks abstrak (telling), gambarnya akan buram. Tapi jika sinyalnya berupa detail sensorik (showing), gambarnya akan tajam dan berwarna.
Kesimpulan
Menulis cerpen yang memikat bukanlah soal menggunakan kata-kata puitis yang rumit, melainkan soal seberapa efektif Anda memicu imajinasi pembaca. Penerapan Teknik “Show, Don’t Tell” dalam Cerpen adalah jembatan yang menghubungkan hati penulis dengan hati pembaca.
Jadi, berhentilah memberi tahu pembaca bahwa karakter Anda sedang jatuh cinta. Tunjukkan bagaimana dia tersenyum sendiri saat melihat notifikasi pesan, atau bagaimana dia mendadak jadi suka mendengarkan lagu cinta yang cengeng. Biarkan pembaca merasakan debarannya. Sekarang, ambil pena Anda, dan mulailah “menunjukkan” dunia Anda.